PENAJAM – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyelenggarakan pertemuan koordinasi tingkat kabupaten dalam upaya intensifikasi pelayanan Keluarga Berencana (KB) di fasilitas kesehatan di aula Hotel Aqila, Rabu (13/07/2022).

Koordinasi ini dilakukan dalam upaya mendukung program percepatan penurunan stunting melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB. Pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan komitmen stakeholder dan mitra kerja terkait di kabupaten dalam pelayanan KB tersebut.

Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan tenaga kesehatan dari Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan wilayah Kabupaten PPU.

Sekretaris DP3AP2KB PPU, Siti Aminah menyampaikan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, penduduk merupakan modal dasar pembangunan dan titik sentral dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu menyelenggarakan program yang berhubungan dengan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan keluarga.

“Sesuai dengan arahan Presiden RI, BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana) ditunjuk sebagai koordinator program yaitu menjadi leading sector percepatan penurunan stunting. Kondisi stunting (di Kabupaten PPU) saat ini berada di angka 27,67% sedangkan target yang harus dicapai tahun 2024 yakni 14% sehingga diperlukan kerja keras untuk mengurangi angka tersebut,” paparnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan perlu adanya dukungan dan kerja sama dari berbagai sektor untuk mencapai target tersebut. Upaya penurunan angka stunting, sebutnya, dapat dilakukan melalui peningkatan kesertaan keluarga berencana untuk menunda atau menjarangkan kelahiran pada keluarga yang berisiko stunting.

“Jadi kalau yang sudah stunting, paling tidak kita mempertahankan jangan sampai ada terjadi lagi stunting-stunting berikutnya,” ucapnya.

Aminah menegaskan tugas bersama dari BKKBN dimulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hal ini dimulai dari masa pranikah hingga masa balita dalam keluarga. Maka dari itu, Ia menyebut saat ini tengah gencar memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah terkait hal tersebut.

“Karena di situlah adik-adik remaja kita untuk mempersiapkan reproduksinya, mulai kapan dia mau menikah, sudah direncanakan. Karena berani berencana itu keren. Jadi jangan kita menikah karena bencana tetapi menikah harus direncanakan,” pungkasnya. (Diskominfo/mad/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *