PENAJAM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Sujiati mengungkapkan kuota pupuk bersubsidi yang dialokasikan Kementerian Pertanian (Kementan) terus menurun.

“Kuota pupuk subsidi untuk PPU dari tahun ketahun terus berkurang. Sudah jelas itu tidak memenuhi kebutuhan petani. Misalnya dalam satu kempok tani itu ada 40 orang dan yang mendapatkan pupuk subsidi ini hanya 30 orang, dulu nya itu semuanya dapat dan sekarang ini tinggal delapan orang yang dapat, ” ujarnya.

Anggota DPRD PPU Sujiati

Ia juga memaparkan pada tahun 2022, Pemerintah hanya mengakomodir 30 persen dari usulan pupuk bersubsidi yang telah diajukan pemerintah daerah. Kabupaten PPU hanya mendapatkan pupuk subsidi jenis pupuk organik cair 650 lier, organik granul 1.170 ton, ZA 189 ton, SP36 522 ton dan NPK 4.350 ton serta pupuk subsidi jenis urea 3.872 ton.

Ia juga menegaskan apabila kuota pupuk subsidi tersebut terus mengalami penurunan lebih baik pemerintah pusat mencabut pupuk subsidi tersebut. Karena, pupuk subsidi yang didapatkan petani tidak memenuhi kebutuhan lahan tanaman mereka.

“Lebih baik pupuk subsidi ibi dicabut saja. Karena pupuk subsidi yang terbatas ini hanya daoat menimbulkan masalah baru di kalangan petani, ” ujarnya.

“Lebih baik anggaran subsidinya dialihkan untuk penanganan pasca panen, seperti subsidi harga gabah. Jadiharga gabah petani jadi mahal. Kalau harga gabah yang kering mencapai Rp4.200 per kilonya, saya kira petani tidak masalah tidak ada pupuk subsidi, ” sambungnya.

Ia berharap kepada pemerintah daerah untuk ikut serta menangani permasalahan yang kerap kali dihadapi petani pasca panen. Pasalnya, hargagabah terkadang dimainkan para tengkulak. (Adv/mad/red)

By

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *